NEWS UPDATE

2.000 WNI Gunakan Hak Pilih di Brisbane

Tim JRC 06 Juli 2014 | 17:28:14 | Dibaca : 905 Kali Internasional
Keterangan Gambar : WNI Lakukan Pencoblosan

Australia, JR--Banyaknya warga Negara Indonesia yang hendak menggunakan hak pilihnya memaksa petugas pemilihan presiden di Brisbane, Australia, menunda berbuka puasa. Petugas di Ibu Kota Queensland yang sibuk sejak pagi hari, hanya sempat minum air putih sambil terus melayani pemilih yang datang, Sabtu (5/6/2014) kemarin.
Australia, JR--Banyaknya warga Negara Indonesia yang hendak menggunakan hak pilihnya memaksa petugas pemilihan presiden di Brisbane, Australia, menunda berbuka puasa. Petugas di Ibu Kota Queensland yang sibuk sejak pagi hari, hanya sempat minum air putih sambil terus melayani pemilih yang datang, Sabtu (5/6/2014) kemarin.

Memang kalau pilpres lebih banyak yang datang dibanding pileg, tutur Henry Lulu, seorang pria yang istrinya sedang menyelesaikan gelar S3 di Brisbane. Dia merujuk pada pemilihan legislatif bulan April lalu.

Terlihat, para pemilih menunggu giliran dipanggil sambil membuka puasa dengan nasi bungkus atau jajanan Indonesia di aula sekolah menengah negeri di bilangan Sherwood. Akibat banyaknya pemilih, petugas terus bekerja melewati jam 6:00 sore sejak pukul 8:00 pagi.

Pintu akan ditutup pada pukul 6:00 nanti, tetapi semua pemilih akan tetap dilayani, tutur Pan Mohamad Fariz, anggota panitia pemilihan di sekolah ini saat memberikan pengumuman.

Berbeda dengan pada saat pileg, pemilih yang belum terdaftar juga tetap dapat memilih. Saat ini, sekitar 1.000 orang menggunakan hak pilihnya di Brisbane, atau sekitar dua kali jumlah pemilih pada waktu pileg.

Jumlah pemilih terdaftar sekitar 2.000 orang, sisanya melakukannya melalui pos karena mereka berdomisili di kota-kota yang jauh dari Brisbane. Jarak antara Brisbane dengan Cooktown, kota paling utara di Queensland adalah sekitar 2.000 kilometer atau sekitar jarak dari Bandung ke Banda Aceh.

Meskipun pemilih berjubel, aula yang besar ini tetap nyaman karena udara sejuk di musim dingin. Apalagi di ruangan bawah tersedia berbagai makanan dan jajanan khas Indonesia. Saya datang pagi tadi, tutur Agnes Sumargi, mahasiswi psikologi yang baru saja merampungkan studi doktornya di Universitas Queensland, belum terlalu banyak orang tadi, sambungnya.

Berita Terkait